AUTOINDO.ID, KARAWANG–Hubungan industrial yang matang dan transformatif menjadi fondasi penting dalam mendorong daya saing industri nasional. PT Bridgestone Tire Indonesia menunjukkan hal tersebut melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) XVI untuk periode 2026–2028, yang berlangsung di Karawang dan disaksikan langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Yassierli.
Momentum ini tidak sekadar seremoni administratif, melainkan simbol keberlanjutan kolaborasi antara manajemen dan serikat pekerja. Dalam konteks persaingan global yang semakin ketat, hubungan industrial yang harmonis saja tidak lagi cukup. Dibutuhkan pendekatan yang lebih proaktif dan transformatif, di mana pekerja dan perusahaan bergerak dalam satu visi yang sama.
Dalam sambutannya, Yassierli menegaskan pentingnya peningkatan level hubungan industrial. “Kita ingin hubungan industrial naik kelas, tidak hanya harmonis, tetapi juga proaktif dan transformatif, di mana pekerja dan perusahaan memiliki visi bersama untuk meningkatkan daya saing. Ada lima level maturitas Hubungan Industrial, yakni terfragmentasi, patuh, harmonis, proaktif dan transformatif. Bridgestone Indonesia berada di antara proaktif dan transformatif, oleh karenanya diharapkan perusahaan bisa terus meningkatkan level maturitas hubungan industrialnya dan menjadi contoh bagi perusahaan-perusahaan lain di Indonesia,” ujarnya.
Penilaian tersebut menempatkan Bridgestone Indonesia sebagai salah satu perusahaan yang telah melampaui standar umum nasional, di mana banyak perusahaan masih berada pada tahap kepatuhan atau sekadar harmonis. Di sisi lain, pencapaian ini juga tidak terlepas dari performa bisnis perusahaan yang terus menunjukkan tren positif, terutama di pasar ekspor.
Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno, menegaskan bahwa kontribusi perusahaan tidak hanya terbatas pada pasar domestik. “Tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, Bridgestone Indonesia mencatatkan prestasi ekspor yang membanggakan. Produk ban dari pabrik di Indonesia telah diekspor ke lebih dari 70 negara, termasuk negara-negara dengan standar tinggi seperti Amerika Serikat, Australia, hingga negara asal Bridgestone, yaitu Jepang. Hal ini membantu membuat Bridgestone Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar ekspor,” ujarnya.

Keunggulan tersebut didukung oleh penerapan prinsip SEQCD—Safety, Environment, Quality, Cost, dan Delivery—yang menjadi landasan operasional perusahaan. Selain itu, pendekatan 4P (Policy, People, Process, Product) juga menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas dan inovasi di lingkungan kerja.
Direktur HRGA Bridgestone Indonesia, Yunus Triyonggo, menambahkan, “Prof. Yassierli menaruh apresiasi yang tinggi terhadap inisiatif Bridgestone Indonesia yang telah mempraktekkan filosofi 4P (Policy, People, Process, Product) dalam upaya peningkatan produktivitas kerja beserta beberapa contoh inovasi perbaikan ergonomi di tempat kerja, dan beliau mengharapakan bahwa ‘best practice’ tersebut, dapat juga dipelajari dan diterapkan oleh perusahaan-perusahaan lain di Indonesia.”
Dengan pijakan yang semakin kuat melalui PKB XVI, Bridgestone Indonesia tidak hanya mempertegas komitmen terhadap kesejahteraan pekerja, tetapi juga menegaskan perannya sebagai model hubungan industrial masa depan di Indonesia.












