AUTOINDO.ID, DAKAR–Gurun tidak pernah berkompromi. Ia menolak klaim berlebihan, menyingkirkan teknologi setengah matang, dan hanya menyisakan mesin serta manusia yang benar-benar siap. Dalam konteks inilah Dakar Rally 2026 di Arab Saudi menjelma lebih dari sekadar ajang balap; ia menjadi ruang uji kejujuran industri kendaraan niaga dunia—bukan tentang siapa tercepat, melainkan siapa yang mampu bertahan.
Di tengah persaingan lebih dari 45 truk kompetisi dari berbagai negara, Hino Motors Ltd. mengambil langkah yang tidak lazim. Melalui Hino Team Sugawara, pabrikan asal Jepang ini kembali turun ke Dakar Rally untuk ke-35 kalinya, bukan dengan truk terbesar atau paling bertenaga, melainkan dengan HINO 600 Series, sebuah medium duty truck yang akarnya justru berasal dari dunia kerja sehari-hari.
Pilihan ini menyimpan pesan strategis. Saat banyak peserta mengandalkan truk berat yang sepenuhnya dirancang untuk balapan, Hino membawa narasi berbeda: bahwa kendaraan niaga sejati seharusnya tangguh bukan hanya di lintasan lomba, tetapi juga relevan dengan kebutuhan logistik global. Dakar Rally dijadikan laboratorium ekstrem untuk menguji apakah klaim tersebut benar-benar berdasar.
“Kami memulai reli ini dengan penuh fokus dan semangat sebagai satu tim,” ujar Teruhito Sugawara, Team Director sekaligus pembalap utama. Bersama navigator Hirokazu Somemiya dan mechanic onboard Yuji Mochizuki, pendekatan tim jelas: mengutamakan konsistensi, pengelolaan risiko, dan ketepatan teknis dibanding agresivitas semata.

Sebagai satu-satunya truk asal Asia di kategori truk Dakar Rally 2026, Hino Team Sugawara membawa makna simbolik bagi industri otomotif kawasan. Medium duty truck bermesin inline enam silinder berkapasitas 8.866 cc tersebut menunjukkan bahwa efisiensi dan keandalan tidak harus dikorbankan demi performa ekstrem, bahkan saat bersaing dengan puluhan truk dari Eropa dan Amerika.
Hasil pendekatan tersebut terlihat pada Special Stage sepanjang 305 km di sekitar Yanbu. Medan berat yang dipenuhi kerikil tajam dan batu besar dilalui tanpa kendala mekanis, mengangkat posisi tim dari peringkat ke-13 menjadi ke-9 di kelas truk. Capaian ini bukan kebetulan, melainkan buah dari evaluasi suspensi, keseimbangan kendaraan, dan disiplin teknis yang matang.
Ke depan, etape menuju Al-Ula dengan Special Stage sepanjang 400 km akan semakin menguji batas kemampuan manusia dan mesin. Namun, konsistensi Hino yang selalu menuntaskan Dakar Rally selama puluhan tahun menegaskan bahwa filosofi QDR (Quality, Durability, Reliability) bukan sekadar jargon pemasaran, melainkan prinsip yang diuji berulang kali tanpa kompromi.
Dan di gurun yang tidak mengenal janji, hanya kendaraan yang jujur pada ketangguhannya yang akan meninggalkan jejak.







