AUTOINDO.ID, BOGOR–Perubahan bentuk mobil dalam satu dekade terakhir bukan sekadar soal gaya, tetapi respons atas kebutuhan manusia dan lingkungan. Dari sedan yang rendah dan panjang, kini kendaraan bertransformasi menjadi lebih tinggi, ringkas, dan praktis. Adaptasi ini tidak datang tiba-tiba—ia lahir dari kondisi jalan, iklim, serta pola hidup masyarakat urban yang terus bergerak.
Indonesia, dengan curah hujan tinggi dan karakter jalan yang beragam, menuntut kendaraan yang mengutamakan rasa aman. Namun, mobil tinggi kerap diasosiasikan dengan ukuran besar, berat, dan sulit dikendalikan—terutama bagi perempuan. Di titik inilah konsep SUV kompak menjadi relevan: tinggi, tetapi tetap ramping dan mudah dikendarai.
Mitsubishi melihat perubahan tersebut dan menghadirkan Destinator sebagai jawaban. Menurut Rifat Sungkar, pereli nasional sekaligus pengamat otomotif, kunci SUV modern ada pada posisi duduk dan visibilitas. “Sekarang kita temukan formula itu ramping tapi tinggi. Jadi compact, posisinya semuanya dekat. Steering dekat, pedal dekat, pandangan juga jelas,” tuturnya di sela-sela diskusi otomotif bertajuk “Indonesia’s Automotive Outlook 2026”, yang digelar oleh Forum Wartawan Otomotif Indonesia (FORWOT) pada acara touring tahunannya yang berlangsung pada 23–24 Januari 2026 lalu di RDM Villa, Sentul, Bogor.
Ia menambahkan, visibilitas kap mesin yang rata memberi rasa percaya diri, terutama bagi pengemudi perempuan. “Banyak orang—terutama cewek—punya patokan visual. Kalau kapnya kelihatan jelas, mereka lebih pede,” kata Rifat. Inilah alasan SUV ringan kini tak lagi identik dengan maskulinitas semata, melainkan kendaraan yang inklusif dan easy going.
Dari sisi lifestyle, Destinator diposisikan sebagai mobil keluarga modern. Mesin 1.500 turbo dengan transmisi CVT dinilai seimbang antara performa dan efisiensi. “Ini best engine untuk bodi segini. 1.500-nya efisien, turbonya ada kalau dibutuhkan,” jelas Rifat. Ia juga menepis stigma turbo boros dan ribet. “Turbo sekarang beda. ECU-nya pintar, perawatannya nggak spesial, mobilnya bisa merawat dirinya sendiri.”

(photo-photo: dok.Forwot)
Kenyamanan penumpang menjadi nilai tambah lewat konsep theater seat. Kursi baris belakang lebih tinggi sehingga semua penumpang tetap punya pandangan ke depan. “Theater seat itu meminimalisir konflik di perjalanan. Anak-anak nggak lagi minta kursi depan geser terus,” ujarnya sambil tertawa.
Tak kalah penting adalah filosofi Omotenashi—hospitality ala Mitsubishi—yang diterjemahkan lewat ruang kaki lega, pintu belakang lebar, dan kompartemen melimpah. “Kelihatannya sepele, tapi di Indonesia justru itu selling point,” kata Rifat, mencontohkan kemudahan menyimpan barang hingga sepatu olahraga anak.
Pada akhirnya, SUV kompak seperti Destinator bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjawab perubahan cara hidup. Mobil kini bukan hanya soal tampilan, tetapi tentang rasa aman, kemudahan, dan relevansi dengan keseharian penggunanya.








