AUTOINDO.ID, BANDUNG–Sektor pertambangan mineral dan batubara di Indonesia terus menunjukkan skala operasional yang luar biasa masif. Laporan Kinerja Ditjen Minerba Kementerian ESDM 2025 mencatat produksi batubara nasional berhasil menembus angka 817,48 juta ton. Di balik tingginya volume produksi tersebut, tantangan kompleksitas pengelolaan lapangan mulai dari risiko keselamatan kerja, kondisi jalur alat berat, hingga kelelahan operator menuntut adanya transformasi manajemen berbasis data real-time.
PT Putra Perkasa Abadi (PPA), sebagai salah satu kontraktor pertambangan terbesar di tanah air, menjawab tantangan tersebut dengan menggandeng TransTRACK. Penguatan sinergi ini diwujudkan melalui agenda Workshop TransTRACK x PPA di Bandung pada 18–20 Agustus 2026 yang dihadiri 42 peserta. Langkah strategis ini dirancang untuk mendalami pemanfaatan ekosistem teknologi telematika, seperti Live Tracking, Driver Scheduling, Fuel Management System, hingga pemantauan emisi karbon demi mewujudkan Good Mining Practice.
Anggia Meisesari, Founder & CEO TransTRACK, menegaskan bahwa kolaborasi teknologi di industri pertambangan perlu berkembang melampaui implementasi dan terus mengikuti tantangan operasional di lapangan. “Di industri pertambangan, teknologi tidak cukup hanya memberikan visibilitas terhadap apa yang terjadi di lapangan. Teknologi perlu membantu perusahaan memahami risiko, mengambil keputusan berbasis data dengan lebih cepat, serta mengantisipasi potensi masalah sebelum berdampak pada operasional. Melalui kolaborasi dengan PPA, kami ingin terus mengembangkan teknologi berdasarkan kondisi aktual di lapangan dan menerjemahkan data operasional menjadi nilai yang terukur bagi keselamatan dan produktivitas,” tutur Anggia.

Bagi PPA, integrasi sistem kecerdasan buatan dan pemantauan data ini menjadi fondasi utama dalam menekan tingkat kecelakaan kerja sekaligus mengejar target menjadi penyedia jasa pertambangan nomor satu di Indonesia sebelum 2030.
Rozzaq Alhanif Islamudin, Department Head SHE Corporate PT Putra Perkasa Abadi (PPA), mengatakan bahwa teknologi telah menjadi salah satu kebutuhan penting dalam mendukung aspek keselamatan. “Di bidang keselamatan, kami memanfaatkan teknologi TransTRACK sebagai bagian dari upaya preventif. Salah satu yang telah kami gunakan adalah Mobile Digital Video Recorder (MDVR) untuk memantau kelelahan pekerja saat mengoperasikan unit. Data yang diperoleh kemudian kami analisis secara mendalam untuk membantu mengidentifikasi risiko dan menjadi dasar dalam menentukan langkah pencegahan,” ujar Rozzaq.
Kemitraan yang terjalin sejak 2024 ini juga membuktikan komitmen kedua belah pihak dalam membangun ekosistem pertambangan berkelanjutan.
Ledi Hari Setiawan, Chief Operating Officer TransTRACK, mengatakan bahwa keberlanjutan kerja sama dengan PPA menjadi salah satu contoh bagaimana TransTRACK membangun retensi pelanggan dan menjaga tingkat customer churn tetap rendah. “Bagi kami, mempertahankan pelanggan bukan hanya tentang keberlanjutan penggunaan teknologi, tetapi bagaimana kami terus memberikan nilai seiring berkembangnya kebutuhan operasional mereka. Bersama PPA, hubungan yang dimulai sejak 2024 telah berkembang dari implementasi teknologi menuju kolaborasi yang lebih strategis, di mana kami bersama-sama mengeksplorasi, mengembangkan, dan mengevaluasi solusi berdasarkan kebutuhan di lapangan,” ujar Ledi.
Ke depan, fokus pengembangan akan diarahkan pada pendeteksian dini kelayakan jalur tambang guna memperkuat mitigasi risiko secara terukur dan berkesinambungan.












