AUTOINDO.ID, JAKARTA–Ramainya kasus penyadapan telepon terhadap Presiden Prabowo, SBY, Surya Paloh, Megawati, sejumlah tokoh politik, pengusaha, hingga wartawan, mencuatkan istilah LIMS.
Sudah banyak media menyoroti soal politik dari kasus ini, terlebih karena tersangka penyadapan itu salah satunya adalah Mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Autoindo kali ini memilih menyoroti teknologi penyadapannya.
Lawful Interception Management System (LIMS) bukan cara penyadapan tercanggih. LIMS masih kalah dari Pegasus yang dikembangkan oleh NSO Group, sebuah entitas usaha yang berkantor pusat di Herzliya, Israel.
Pegasus bisa digolongkan sebagai spyware tingkat tinggi. Spyware jenis ini bekerja dari dalam ponsel target, dengan mengambil kendali penuh atas sistem operasi (Android maupun iOS).
Pegasus mampu membaca pesan teks, melacak lokasi, mengambil kata sandi, serta mengaktifkan mikrofon dan kamera secara diam-diam. Memakai metode zero-click, ponsel target bisa terinfeksi tanpa korban harus mengklik tautan apa pun.
Sementara itu, LIMS merupakan sistem penyadapan resmi yang digunakan oleh aparat penegak hukum dan intelijen negara. Tidak sama dengan Pegasus yang meretas ponsel, LIMS bekerja di tingkat jaringan operator seluler. Mencegat pesan atau percakapan di tengah jalan, itulah yang dilakukan LIMS. Selain mendengar pesan atau suara, LIMS juga bisa melacak lokasi ponsel yang disadap. Sistem ini memiliki dasbor perintah (bisa dibawa ke mana-mana) untuk memantau nomor ponsel, kartu SIM, hingga IMEI perangkat.
Dalam kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo dan tokoh-tokoh lain tersebut, dasbor LIMS disebut-sebut berada di tiga tempat yang berbeda, yakni di rumah tiga jenderal yang berkomplot dengan Listyo Sigit.
Perangkat LIMS disebut-sebut hanya bisa dibeli oleh institusi resmi sebuah negara, seperti kepolisian, kejaksaan, badan intelijen, atau angkatan bersenjata. Aktivasinya pun bisa diatur sedemikian rupa sehingga hanya orang-orang atau pejabat yang diberi otoritas yang bisa mengoperasikannya.
LIMS yang digunakan untuk menyadap Presiden Prabowo dan sejumlah tokoh disebut-sebut dibeli ketika Listyo Sigit masih menjabat sebagai Kapolri, dan anehnya perangkat tersebut masih dikuasainya meski sudah tidak menjabat sebagai Kapolri.
Selain Pegasus, ada spyware canggih lainnya yang setara, yakni
Predator buatan Intellexa (didirikan pada tahun 2019 oleh Tal Jonathan Dilian, mantan perwira tinggi dan kolonel unit teknologi rahasia Pasukan Pertahanan Israel/IDF).
Predator merupakan spyware canggih yang menyusup lewat celah keamanan browser. Alat ini bisa mencuri data komunikasi dari aplikasi terenkripsi seperti WhatsApp dan sebagainya, tentu saja tanpa disadari oleh korbannya. Predator juga sekaligus bisa merekam suara yang terdengar di sekitar ponsel korban. Canggih bukan?
Apa yang bisa dilakukan oleh Pegasus dan Predator, tidak bisa dilakukan oleh LIMS.
Pertanyaan pentingnya: apakah Pegasus dan Predator sudah ada di Indonesia? Dan siapa yang mengoperasikannya? Hal seperti ini tentu saja tidak bisa dikonfirmasi secara pasti, mengingat statusnya yang sangat rahasia. Namun Amnesty International pernah mencurigai Pegasus sudah dibeli oleh suatu pihak di Indonesia dalam kurun 2019–2023. (MH)












