AUTOINDO.ID, JAKARTA–Pengembangan talenta sumber daya manusia dalam industri kendaraan listrik kini menjadi keunggulan kompetitif utama yang jauh lebih krusial dibanding sekadar memproduksi unit fisik. VinFast menyadari betul bahwa transformasi otomotif modern tidak lagi hanya mengandalkan keahlian mekanis tradisional, melainkan integrasi perangkat lunak, kecerdasan buatan, hingga teknologi baterai canggih.
Sektor otomotif global sedang melakoni persaingan sengit dalam memperebutkan insinyur digital, spesialis AI, dan ahli baterai. Tantangan ini kian nyata terlihat dari Jerman yang kekurangan 80.000 tenaga ahli, hingga Inggris yang mencatat 14.000 lowongan otomotif dengan hanya 27 persen tenaga kerja berkualifikasi menangani sistem kelistrikan.
Keberhasilan di era ini akan ditentukan oleh kemampuan produsen kendaraan dan pemasok untuk mendapatkan serta mengembangkan tenaga kerja yang menguasai perangkat keras dan perangkat lunak, serta mampu menjembatani keahlian mekanis tradisional dengan kemampuan digital generasi berikutnya. Perusahaan yang akan memenangkan persaingan adalah mereka yang memulai lebih awal, berpikir kreatif dalam merekrut talenta, dan menjadikan pengembangan talenta sebagai prioritas strategis utama, bukan sekadar tugas tambahan bagi HR. Dalam industri otomotif yang sangat kompetitif dan bergerak cepat, kekuatan utama tetap berada pada sumber daya manusia.

Mencetak insinyur unggulan dilakukan VinFast melalui langkah edukasi mendalam bahkan sebelum calon karyawan mengajukan lamaran kerja. Melalui payung Vingroup, kerja sama strategis dibangun bersama VinUniversity sejak 2025 untuk fokus pada teknologi baterai dan material canggih. Kerja sama ini diperluas ke 19 universitas di Vietnam guna menstandarkan kurikulum teknik otomotif, mekatronika, dan teknologi informasi, lengkap dengan penyediaan modul perbaikan kendaraan listrik serta peralatan praktik asli.
Strategi pengembangan talenta lokal ini juga dibawa dalam ekspansi manufaktur global. Di Tamil Nadu, India, program peningkatan keterampilan melahirkan ribuan tenaga kerja lokal. Sementara di Indonesia, pabrik Subang menyerap sekitar 1.700 tenaga kerja lokal yang dibekali pelatihan intensif lintas negara untuk memperkuat kapasitas produksi.
Manfaat kolaborasi tersebut dinilai para ahli memberikan dampak yang jauh melampaui kepentingan satu perusahaan. Menurut pengamat industri Phạm Minh, “Agar merek kendaraan listrik berkembang secara berkelanjutan, sumber daya manusia harus menjadi urat nadi di seluruh rantai nilai, mulai dari riset, manufaktur, hingga purnajual. Standardisasi pendidikan kendaraan listrik membentuk generasi insinyur dengan DNA teknis yang sama.”
Nguyễn Văn Việt, peneliti transportasi, menambahkan bahwa “Langkah ini menjembatani jurang antara teori dan kebutuhan lapangan. Model ini menciptakan nilai bagi ketiga pemangku kepentingan perusahaan mendapatkan talenta yang sesuai kebutuhan industri, institusi pendidikan dapat memperbarui kurikulum berdasarkan kebutuhan di lapangan, dan mahasiswa mendapatkan akses ke lebih banyak peluang karier berkualitas. Secara lebih luas, pendekatan ini membantu membangun fondasi sumber daya manusia yang kuat bagi perkembangan industri kendaraan listrik secara berkelanjutan dalam jangka panjang.”












