AUTOINDO.ID, JAKARTA–Suntikan investasi senilai 3 miliar yuan dari Zhejiang Taiyi Shanglian Enterprise Management Partnership menjadi titik balik berharga bagi Hozon New Energy Automobile Company. Konsorsium manajemen tersebut mengambil alih 70,6 persen kepemilikan saham demi menyelamatkan lini bisnis produsen kendaraan listrik Neta Auto, dari jurang kebangkrutan.
Langkah penyelamatan ini dirancang secara terukur melalui skema reorganisasi komprehensif. Dana restrukturisasi sebesar 1,17 miliar yuan dialokasikan khusus guna menuntaskan beban utang masa lalu serta membiayai operasional kepailitan. Sementara itu, sisa dana sebesar 1,83 miliar yuan disuntikkan secara langsung sebagai modal kerja utama untuk menghidupkan kembali mata rantai pasokan, mengaktifkan jaringan purnajual, serta merestart lini perakitan pabrik.
Strategi manufaktur anyar ini berfokus penuh pada segmen Sport Utility Vehicle (SUV) dengan menjadikan fasilitas produksi Neta X dan Neta L sebagai aset inti perusahaan. Sebaliknya, lini perakitan sedan Neta S dan GT dikategorikan sebagai aset non inti yang siap dilepas secara terpisah demi efisiensi operasional.
Guna memastikan keberlanjutan bisnis, manajemen baru menyiapkan strategi pemulihan bertahap. Pada fase awal, pabrikan menargetkan penjualan 10 ribu unit dengan memprioritaskan model Neta X, sekaligus mengaktifkan kembali layanan garansi bagi 400 ribu pemilik kendaraan yang ada.
Memasuki fase kedua, skala produksi diproyeksikan melonjak hingga 300 ribu unit per tahun dengan fokus ekspansi ke pasar berkembang di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Target puncaknya berada pada fase ketiga, yakni peluncuran model kendaraan listrik pintar berbasis global untuk meraih nilai output tahunan sebesar 40 miliar yuan menuju persiapan penawaran saham perdana atau IPO.
Dampak dinamika global ini turut memengaruhi peta operasional di tingkat lokal. Jongkie D Sugiarto, Komisaris Handal Indonesia Motor sekaligus Ketua I Gaikindo, mengonfirmasi bahwa aktivitas perakitan kendaraan di fasilitas lokal telah terhenti sejak setengah tahun lalu. Meski demikian, pihak APM menjamin komitmen pelayanan konsumen Tanah Air dengan mengalihkan jaringan purnajual ke Otoklix dan Anma Mobil. Jongkie D Sugiarto menegaskan, “Keputusan kelanjutan produksi berada di tangan agen pemegang merek.” Keberadaan pabrikan yang masih terdaftar aktif dalam keanggotaan Gaikindo ini memberikan sinyal positif bagi proses pemulihan menyeluruh hingga pertengahan 2026.












