AUTOINDO.ID, BANDUNG–Bus listrik dan kendaraan pertahanan kini menjadi dua sektor yang semakin dipandang strategis dalam arah pembangunan Indonesia: satu untuk mempercepat transisi transportasi berkelanjutan, satu lagi untuk memperkuat kesiapan nasional di tengah dinamika keamanan yang terus berkembang. Dalam konteks itulah, Ashok Leyland, perusahaan terkemuka asal India yang merupakan bagian dari Hinduja Group dan dikenal sebagai salah satu produsen kendaraan komersial dan pertahanan terbesar di dunia, pada Rabu (4/2) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Pindad, produsen peralatan pertahanan dan industri milik negara terkemuka di Indonesia.
Perjanjian yang ditandatangani di kantor pusat Pindad di Bandung ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kerja sama bilateral Indonesia–India, khususnya pada dua bidang yang tengah menjadi perhatian utama pemerintah: mobilitas hemat energi dan teknologi pertahanan maju.
MoU tersebut memuat rencana kolaborasi strategis untuk pengembangan dan manufaktur bersama Bus Listrik (EV) serta Kendaraan Pertahanan yang disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas dan keamanan nasional Indonesia. Kerja sama ini dirancang untuk memadukan keunggulan global Ashok Leyland dalam platform EV komersial dan solusi mobilitas pertahanan, dengan kekuatan Pindad pada rekayasa, manufaktur lokal, serta kontribusi jangka panjangnya dalam ekosistem pertahanan nasional.
Penandatanganan MoU turut dihadiri oleh Prof. Sigit P. Santosa selaku Direktur Utama PT Pindad, Amandeep Singh selaku Presiden Operasi Internasional, Pertahanan, LCV & PSB Ashok Leyland, serta Lord Tariq selaku Advisor to the Board dari Hinduja Auto.
Indonesia sendiri saat ini tengah mempercepat transformasi transportasi publik menuju sistem yang lebih modern dan ramah lingkungan. Di saat bersamaan, modernisasi sektor pertahanan juga menjadi agenda penting agar produksi platform strategis dapat diperkuat di dalam negeri. Karena itu, kerja sama ini dipandang sejalan dengan dorongan nasional untuk meningkatkan adopsi kendaraan listrik, sekaligus memperluas kemampuan industri nasional dalam memproduksi kendaraan pertahanan sesuai kebutuhan operasional Indonesia.
Amandeep Singh menegaskan bahwa kerja sama ini tidak sekadar membangun produk, tetapi juga memastikan teknologi yang dikembangkan benar-benar relevan dengan kondisi Indonesia. Ia mengatakan, “Ashok Leyland memiliki rekam jejak panjang dalam menyediakan solusi mobilitas komersial dan pertahanan yang andal di berbagai belahan dunia. Anak perusahaan kami, Switch Mobility, kini telah mengembangkan beragam bus listrik dengan daya saing global. Kemitraan dengan Pindad memungkinkan kami untuk bersama-sama mengembangkan produk yang secara khusus sesuai dengan kondisi medan, infrastruktur, dan kebutuhan operasional Indonesia.”
Dengan fokus pada pengembangan bersama Bus Listrik dan Kendaraan Pertahanan, kemitraan ini menjadi sinyal bahwa kolaborasi lintas negara dapat menjadi pengungkit penting dalam mempercepat kemandirian industri, sekaligus menjawab kebutuhan masa depan Indonesia yang menuntut mobilitas lebih bersih dan sistem pertahanan yang semakin adaptif.












